Bolamp.net -Lamongan- Jumat (25/12) Masyarakat Lamongan telah kehilangan Ulama kharismatik kelahiran Bangkalan Madura, meninggalkan kita semua kamis 18.32 wib setelah beberapa hari dirawat di RSU Dr.Sugiri Lamongan. Kyai Ilyas mengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Sukomulyo Lamongan meninggalkan 3 putra dan 1 putri.

Berita duka dari medsos yang berantai mengagetkan kita semua termasuk Bupati Fadeli dan Yuhronur Efenndi pengganti Bupati selanjutnya. Langit mendung diiringi angin sepoi yang tidak menurunkan hujan seperti biasa seakan merasakan duka yang mendalam dengan kepergiannya kerumah barunya.

” Innalillahi wainnaillaihi rojiun, kami sekelurga turut berduka cita dengan berpulangnya beliau. Semoga segala amal ibadahnya diterima Allah swt dan diampuni segala kesalahan beliau”, ujar mas Yes mengingat pertemuannya belum lama ini saat sowan ke PP Darus Salam di jalan Basuki Rahmat III/1 Sawahan.

Kepergian KH. M.Ilyas Mawardi ini membuka memori lama, dimana beliau merupakan Guru Ngaji pertama bersama bulek Nadhifa (istri beliau). Disiplin beliau berdua amat terasakan dan membentuk perilaku insam bolamp ini di kehidupan selanjutnya.

Pembentukan karakter anak Madrasah ibtidaiyah Suksuk ( Sukorejo Sukomulya) sebagai dasar amat berharga, juga mengenai kerjasama dan saling tolong menolong selalu ditanamkan selain belajar membaca Alqur’an, tajwid, nahwu shorof maupun yang lain.

Ada kisah kisah lucu dan nakalku bersama teman-teman saat ngaji usai belajar fi SDN ngablak maupun yang SDN Suksuk. Selain belajar agama juga belajar membantu sesamanya, mengisi bak mandi demgan sumur yang dalam diambil dengan timba bertampar. Juga ada piket adzan saat sholat wajib berjamaah. Tak lupa setiap hari ada piket mencari makanan ternak peliharaan yaitu bebek, menthok maupun ayam. Mencari besusul/kreco dan lepok tanaman hijau kevil-kecil yang mengbang dipermukaan air jublang belakang pondok.

Ada kisah-kusah unik saat berempat dengan mukhid, Wahid AS dan Son Ani anak sang Rektor IAIN, di strap) dihukum bulik lantaran tidak mengumpulkan makanan ternak tapi kami berempat membawa satu sak padu sebelum ditumbuk. Maklum berempat dirumah tidak pernah disuruh orangtua mencari makanan seperti itu.

Kisah seru lagi saat itu ada pagebluk yang melanda( hampir saama dengan saat ini ada wabah covid-19 yang tak berujung). Saat itu agar santri tak kena wavah pagebluk, sa tri diberi minuman berkasiat doa dicampur air zamzam(kini mungkin air berenergi), tiap santri diberi jatah satu sloki. Aku berdua dengan Wakid tak mau minum, sehingga berdua dikejar bulik dengan menyuruh tiga santri senior. Akhirnya berdua terpegang dan diberi minuman, berdua minta masing-masing segelas. Alhamdulillah beliau dengan senyum memberinya.

Cerita lainnya masih banyak dengan kevandelan anak-anak kecil saat itu. Ingatan lain dengan yai Ilyas, saat ada sesuatu yang menggoda para kyai saat itu dan membuat kegalauan para ulama Lamongan. Berdua dengan Ahmad Hanbali menuju beliaunya yang siap menggadapi para pengontran yang memusuhi para Kyau.

” Ada fin lan hambali… Aku siap, kalau ada yang menjual, aku beli, kalau ada pengacau kesini siap.. Orang muslim yang Madura, dibelakang pintu itu ada Celurit” Ujar Yai ILyas dengan logad Meduranya.

Hari ini beliau dimakamkan di Pemakaman Pralays Mukti Pagerwojo, disebelah bu Nyai Siti Nadhifah binti Syeh Munir dari Bangkalan yang meninggalkan kita 11 tahun lalu tahun 2009. Selamat jalan Yaiku rumah barumu lebih indah dan lebih luas daripada Pondok Pesantrenmu di dunia. Kullun nafsun dzaikotul mauutt. (Arifin Katiq)

KH. M. Ilyas Mawardi ” Kyai kharismatik meninggalkan kita dipenghujung 2020″
Total Page Visits: 517 - Today Page Visits: 1

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *