Bolamp. -Lamongan -PENULIS mengikuti euforia kegiatan Purnama Sastra Bojonegoro (PSB) ke-66 yang digelar di Warung Lesung Abdi Dalem milik Suyanto yang berada di TV Jalan Suhadak, Gang Sumurrowo, turut Dusun Mindi, Desa Sugihwaras, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (16/6/2022) sebagai fakta bagaimana eksistensi seni dan budaya di kota Angling Darma ini menjadi contoh bagi daerah lain.

Hadir di gelaran itu para penyair ternama Jawa Timur saat ini seperti Widodo Basuki (Sidoarjo), Aming Aminoedhin (Mojokerto), Herry Lamongan (Lamongan), dan sederet tokoh tokoh sastra Jawa Timur serta para pegiat sastra di Bojonegoro, Nganjuk dan Tuban diantaranya Moh. Bekti Ketua Perkumpulan pamong Seni dan Budaya (PPSB), Fauzi Zam-zam Sastra Pelataran Bojonegoro, Kang Udin, Gampang Prawoto, Hery Abdi Gusti, Siswo Nur Wahyudi, Agus Sigghro, dll.

Dalam catatan penulis, bukan hanya fenomena rutinitas dan konsistensinya yang menjadikan Purnama Sastra Bojonegoro ini menjadi salah satu peristiwa seni dan budaya yang luar biasa, namun juga kemandiriannya bahwa event ini berlangsung tanpa embel-embel dana dari pemerintah.

Dan, Bojonegoro kini ibarat menjadi kiblat sastra dan budaya, khususnya di wilayah eks Karesidenan Bojonegoro (meliputi Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan, red). Data terkini bisa dilihat dengan acuhan kegiatan dan prestasinya.

**
Data yang dihimpun penulis di penghujung tahun 2021, di Penghargaan GTK Creatif Camp 2021 (GCC) Batch 2 dalam rangka HGN 2021 dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di hotel Bumi Surabaya (28/11/21) Lamongan hanya mendapat 2 penghargaan, yakni atas nama Iva Titin Shovia, S,Pd (nama kepenyairan Titin Pardesi) dari SMA Negeri 1 Karangbinangun. Titin yang sahabat penulis ini adalah founder Indie Literary Club (ILC), sebuah komunitas menulis daring di Lamongan, sedangkan Ahmad Zaini, S.Pd dari SMK Negeri 1 Lamongan ( salah satu pengurus DKL periode 2019-2022).

Dikutip penulis dari laman dikbudpropjatim, dalam GCC 2021 ini Kabupaten Bojonegoro berhasil keluar sebagai Juara Umum. Kab. Gresik meraih 7 penghargaan (penenang), dan Kab. Lamongan hanya meraih 2 penghargaan.

Tanpa bermaksud membandingkan keseriusan para seniman dan budayawan Bojonegoro dalam berkarya dan menjaga marwah – PSB dan GCC pantas menjadi pemantik bagi seniman dan budayawan di wilayah eks Karesidenan Bojonegoro ini.

Salah satu contoh di Lamongan yang terlihat sepi dari kiprah tersebut. Padahal di Kab. Lamongan disebut gudangnya para seniman yang notabene memiliki banyak tokoh, pegiat, pelaku seni dan budaya dengan segala potensinya.

***
Fin Katiq (De Rifin), Pengamat Seni dan Budaya menyebut miskinnya kota ini dari kiprah seni-budaya, karena Dewan Kesenian Lamongan (DKL) tengah mati suri, tak ada greget apalagi motivasi berkesenian.

Melalui “Obrolan Warkop” penulis dengan De Rifin, ada simpulan bahwa kepengurusan DKL terbukti tidak bisa mewadahi, mengkoordinir, memberi ruang hidup dan beraktifitas atau berkarya sehingga bisa dimunculkan pada masyarakat sebagai kearifan lokal.

Pengurus DKL masa bakti 2019-2022, bisa disebut sebagai Kabinet yang gagal. Karena gerbong organisasinya mandek dan praktis hanya mengekor pada kegiatan Pemkab, tanpa ada ide kreatifnya.

Mestinya dimasa COVID-19 pegiat seni harus tetap berkreasi, berkomunikasi, menunjukkan karya seninya, via laman online, media sosial atau fasisilitaa lain yg tidak harus mengumpulkan banyak orang.

Contoh, Hery Lamongan yang banyak berkiprah sebagai bintang tamu di berbagai kegiatan sastra di luar kota/ daerah. Hebatnya di kepengurusan DKL, ia didhapuk sebagai seksi sastra inipun tidak bisa mengelar kegiatan selevel PSB. Padahal di seluruh penjuru Lamongan ada hingar bingar para komunitas sastra yang butuh untuk dieksplor dan diwadahi dalam sebuah panggung untuk menunjukkan eksestensi dan karyanya.

Karena itulah ada harapan cerah, kepengurusan DKL yang kini sebenarnya demisioner, ke depan harus dijabat personal yang profesional. Sesuai dengan bidangnya, linier, mengerti seni dan budaya Lamongan.

Tidakkah kita malu pada Bupati DR. H. Yuhronur Efendi, MBA (Pak Yes) yang telah malang melintang berkiprah, mengembangkan seni dan budaya di Dewan Kesenian Lamongan. Jargon Pak Yes saat muda, sudah berada di komunitas seni dan budaya Karanggeneng yang melahirkan tokoh ternama seperti alm. Joko Suud Sukahar, Tarmuzi, Agus mBoikdll.

Kedekatan dan perhatian Pak Yes pada seniman Lamongan sudah terjalin sejak lama, karena ia sempat menjabat sebagai Ketua DKL.

Saat Pak Yes bertakziah di kediaman alm. Viddy Alimahfoed Dairy, seniman Nasional yang lahir di Desa/ Kecamatan Laren, beliau berjanji akan membangun Gedung Kesenian Lamongan, dan memfungsikan stadion atau area lapangan Gajah Mada yang bisa digunakan akses dan ekspresi kawula muda Lamongan.

Karena itu di akhir obrolan dengan Cak Ifin, ia berpesan, demi melihat keseriusan Pak Yes terhadap seniman Lamongan namun tak diimbangi oleh DKL dan otoritas terkait.

” Hal yang sama. Jangan-jangan Gedung Kesenian, dan area Gajah Mada itu ada, atau gak ada kegiatan, malah jadi monumen hantu lagi,” katanya.

Semoga tulisan ini menjadi tonggak baru untuk kebangkitan seni dan budaya Lamongan.*** ( Danar S Pangeran, Jurnalistik Posmo Surabaya).

Menggugat Eksitensi DKL Lamongan yang Mati Suri
Total Page Visits: 871 - Today Page Visits: 1

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *