Lamongan  – bolamp.net  – Akibat menyebarnya virus Corona Covid 19 yang begitu cepat, berakibat pada dunia Pendidikan Nasional. Dunia seakan runtuh dengan gonjang ganjing virus yang pertama kali di WuhanCina, menyebar begitu cepatnya, begitupun tanggapnya suatu negara untuk menyikapi pagebluk dunia ini.

Gonjang ganjing seluruh sendi kehidupan terkena efeknya, luar biasa dari tatanan elit hingga rakyat jelata, dari ekonomi makro sampai tatatan keagamaan terusik dengan bahayanya virus ini. Ditambah lagi info menyesatkan di medsos dari orang pinter dadakan, peneliti anyaran dengan pengakuan hasil penelitiannya yang lebih hebat  dari peneliti sesungguhnya yang menggunakan Kaidah Ilmiah dan berfikir ilmiah.

Kamis 19 maret pukul 17.00 dari siaran televisi nasional, terkesima melihat perkembangan pandemi virus Covid19 di negara ini. 309 terkonfirmasi penyakit terinci  269 pasien dalam strata penyembuhan, 15 pasien dinyatakan sembuh dan 25 pasien meninggal, yang merupakan capaian tertinggi di Asean.

Disektor Aparat Sipil Negara (ASN ) muncul kebijakan untuk Work From Home (WFH) kecuali beberapa instansi pelayanan publik yang wajib masuk. Tak terkecuali guru yang mestinya work from home mengikuti siswanya yang belajar dirumah. Namun guru tetep diharuskan masuk untuk mengajar secara online . Masalah-masalah muncul, kesiapan perangkap pembelajaran muncul, tentang  aplikasi, tentang jaringan, tentang piranti lunak (HP) yang dimiliki siswa.

Aneh bin ajaib , suatu sekolah yang sebelumnya melarang siswa menggunakan HP atau  androit dan larangan itu belum tercabut, namun mewajibkan anak belajar secara online. Ini terkecuali siswa kelas 3 ( kelas IX untuk SMP, kelas XII untuk SMA/MA/SMK) sudah terbiasa karena UNBK  dengan menggunakan komputer sekolah dan atau dengan HP bila komputer sekolahnya sedikit.

Pihak sekolah dengan aneka daya, menunjukkan  Sekolahnya seakan-akan terdepan,  termodern. Padalah sebaliknya Sekolah sekolah itu hiprahnya hanya membangun sarana phisik yang bisa terlihat mata. Memang betul itu bagian komponen pendidikan secara keseluruhan, namun banyak yang tak tetkait dengan kebutuhan perangkat pembelajaran .

Terkait pembelajaran online ini, guru , siswa dan orang tua muncul masalah baru. Masalah ini tak bisa dipandang sebelah mata, menyebabkan perselisihan antara anak. Guru dituntut oleh lembaga untuk memberi tugas  yang dikerjakan secara mandiri, anehnya tugas yang diberikan berat berat dan terkadang nganeh nganehi. Beda dengan tugas saat di dalam kelas yang bisa dipecahkan bersama sesama teman kelompoknya.

  1. Dirumah terjadi pemandangan yang luar biasa, mestinya anak  banyak dirumah dengan aktivitas sederhana untuk penguatan fisik, olahraga ringan dengan teman sekampung agar tak ada kontak dan atau terserang oleh virus yang amat kecil bentuknya.

Anak diberi tugas pelajaran yang banyak, memberatkan dan harus dikumpulkan. Hal ini yang menyebabkan  terjadi pertengkaran dengan orang tuanya, karean orang tuanya ditanyai dan diminta menjawab soal tersebut. Padahal pembelajaran online dirumah harusnya berbobot tetapi tidak menyita dan menguras tenaga yang luar biasa.

Jika dibiarkan , malah kondisi anak menghawatirkan dan bisa menyebabkan badan lemah dan imun tubuh rendah, malah rentan untuk terserang penyakit.

Semoga anak belajar online dirumah minggu pertama, bisa diperbaiki oleh pihak guru terutama oleh kepala sekolah yang selalu ingin dianggap ter bila dibanding sekolah lainnya. Jadikan anak didik kita bisa happy dikala suasana yang mencekam ini, anak didik tetep semangat dan sehat. Begitu pula bangsa ini selalu sehat dan mampu bangkit dari bawah dengan semangat yang telah diturunkan oleh para pendiri Bangsa dengan semangat berjuang, mandiri dan harga diri, bukan sebaliknya. ( Arifin Katiq)

 

Guru, Siswa dan tugas pembelajaran online di rumah yang menghangat
Total Page Visits: 339 - Today Page Visits: 3

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *