Bolamp.net – Lamongan (30/11) -. Berlima dari Sadar Toea penggowes 66 menyusur dari tambak ke tambak, tanggul bengawan hingga membelah hutan jati Dandu desa Gelap menuju Desa Wide yang dulu merupakan daerah perdikan Banyak Wide kekuasaan dari ayahanda Ronggo Lawe Kadipaten Toeban.
Suasana pagi di akhir bulan November, mendung mengantung mau menerjunkan butiran butiran air ditanah kering karena lama tak berhujan ditambah angin siklon tenggara membuat swatantra ini membara dengan suhu mencapai 33°C. Gerah nian menghasilkan butiran keringat dan umpatan. Padahal menurut Gun n Roses sudah waktunya hujan di bulan nopember ini, “November Rain” Yang melegenda.
Dari kota Soto Lamongan berangkat tepat 06.15 hingga finis ditempat Rekreasi Trinil Milik Perhutani Tuban. Tempat Rekreasi yang eksotik menyimpan panorama yang liar biasa, berjarak 3 km dari pantura barat Desa Tua desa Sedayu sekitar 7km dan dari Desa Gelap Laren 8km membelah hutan Jati yang lumayan lebat dan besar-besar kayunya.
Wisata Trinil ini menyimpan misteri yang luar biasa dengan pohon akar langit, seperti di film petualangan dihutan wingit di Selandia baru. The Lord of The Ring Menghujam ke tanah menghujam ke langit dan daerah ini dipercaya dulunya saat jaman Majapahit sebagai menara pengintai arus masuk kapal kapal dari negeri luar mau masuk pelabuhan Sidayu menuju bengawan Solo harus melintas Pelang Wot Laren.
Disaat pandemi ini perlu ihtiar bagaimana cara untuk meningkatkan nilai ekonomi rakyat, ekonomi negera sehingga ada gairah untuk mengunjungi wisata wisata eksotik seperti Trinil yang sudah mulai dibuka untuk umum awal nopember ini, namun pengunjung diacara weekend hanya disapa oleh 49 pengunjung.
Sebelum mencapai wisata Trinil, negeri pintu langit, berlima Ayik, ciput, Nuh, Farit dan Penulis mampir dulu di Desa Pancasila desa Balun. Desa berbagai pemeluk Agama berbeda walau dalam satu rumah ada Islam, Kristen, dan Hindu Budha, begitu tempat ibadahnya saru area. Masjid besar dengan menara menjulang tinggi, dikirinya berdiri kokoh pure dengan aroma hio dan kemenyannya dan diseberang alon-alon berdiri Gereja Kristen Jawi Wetan.
Perjalanan penggowes dilanjut jalanan dari tambak ke tambak sampai desa tua Lukrejo dan Mungli sebagai tempat singgah awal. Menyusur jalan beraspal dan cor beton Sumber Wudi, Guci, desa Banteng ketaton hingga istirahat di desa Gumantuk tempat palagan pertempuran Kadet Suwoko dkk gugur melawan Belanda.
Usai makan makanan khas ikan bengawan dengan sambelnya, perjalanan dilanjutkan menuju desa Pringgoboyo guna menyapa Masjid Bata Tiban . Karena mimpi Kyai Qustairi di nyatakan dengan menggali gundukan tanah kuburan, subhana Allah luar biasa ditahun 1978 itu batu bata besar peninggalan Majapahit tertulis nama Qusyairi sesuai mimpinya.
Setelah rehat sejenak guna sholat duhur dan jamak asyar menyapa tempat pesarean Anggon Boyo yang dikenal dengan makam Joki Tingkir, diareal yang penuh mistis dan pohon randu alas besar banget dan pohon sawo. Sehingga tak salah persela menggunakan nama Pasukan Joko Tingkir bukan pasukan Bala Mada.
Alhamdulillah meninggalkan makam disambut hujan, sehinggu suasana sejuk memayungi menuju desa laren, menyusur tanggul menuju desa plangwot, float away sudetan Bengawan Solo menuju Laut jawa.
Pelan namun perjalan melintase dusun Lengor, menuju desa Gelap satu jam ditempuh. Setelah di Gelap perlu perbekalan untuk ditengah jalan membelah hutan jati daerah naik yang menguras tenaga hingga finis di area wisata akar langit Trinil desa W