BOLAMP.NET -BOJONEGORO-
Kekayaan alam Bojonegoro dan Lamongan selain penghasil kayu jati yang berkelas, juga daunnya untuk kebutuhan wadah makanan istilahnya makanan pincuk godhong jati.

Selain hal diatas satu lagi hasil dari alas kayu jati ini hewan kecil yang menempel (plasma) enthung namanya sebelum jadi walang . Enthung jati ini akan menjadi makanan khas musiman untuk Bojonegoro dan Lamongan selatan.

Selain enthung dikedua daerah ini juga membuat olahan gorengan setelah enthung tumbuh dewasa menjadi walang jati. Walang jati ini biasanya digoreng dengan rasa special.

Kepompong jati atau enthung jati menjadi obrolan hangat saat ini. Bagaimana tidak , awalnya enthung jati adalah sesuatu yang dianggap remeh tak berguna sekarang menjadi bernilai ekonomis tinggi. Harga kepompong atau enthung jati tergolong mahal. Harganya bisa tembus Rp 100 ribu per kilogram. Para pencari enthung jati juga menjual secara takaran, sehingga lebih terjangkau. Biasanya dijual dengan takaran cangkir kopi kecil.

Mahalnya harga kepompong dari ulat daun jati itu sehingga banyak diburu warga. Enthung jati biasanya akan muncul dalam jumlah yang sangat banyak pada 4 sampai 6 minggu pertama saat awal musim penghujan. Kemunculan enthung jati ini menjadi berkah tersendiri bagi warga sekitar hutan.

Enthung jati banyak dijual saat masih hidup (mentah) maupun sudah dalam bentuk olahan yang siap makan. Hewan yang memiliki nama lain pupa itu biasanya dimasak berupa tumis, sayur, digoreng, maupun di oseng-oseng.

Salah seorang pemburu enthung jati, Jumirah, yang tinggal disekitar hutan jati Ngabukan, Desa Buntalan, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro mengaku setiap hari rata-rata bisa mendapat enthung jati hingga 15 cangkir. Per cangkir dijual seharga Rp10 ribu. Sedangkan untuk per kilogramnya, antara Rp70 ribu hingga Rp100 ribu.

“Ini cari enthung sama anak-anak nanti untuk dijual hasilnya,” ujarnya saat mencari enthung jati di kawasan Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Tretes-Temayang, Kamis (21/12/2023).

Sekadar diketahui, saat musim awal penghujan kawasan hutan jati di Kabupaten Bojonegoro banyak muncul enthung jati. Warga sekitar atau pencari enthung itu biasanya mencari dengan cara menyibak daun jati yang sudah jatuh ke tanah. Satu demi satu dikumpulkan untuk dijual maupun dikonsumsi sendiri sebagai lauk.

Jangan lupa kalo berkunjung ke Bojonegoro selatan dan Lamongan selatan menikmati hidangan enthung jati dan goreng walang. Tak lengkap rasanya kalau belum menikmatinya, penuh sensasi (Lus/Fin)

Enthung Jati, Makanan Musiman Bojonegoro Tembus Rp100 Ribu
Total Page Visits: 314 - Today Page Visits: 5

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *