Waduk Cerukrejo Lamongan

KACU(GOMBAL) WEWE PUTEH
Malam malam tertentu,  dibawah pohon ploso besar rimbun,  pohon yang berusia ratusan tahun banyak orang melekan melakukan tirakatan. Ngalap berkah memburu sesuatu sesuai yang diinginkan,  dinginnya dan hembusan angin waduk Cerukrejo tak membuat surut niatnya,  mistisnya aura malam bisa membuat merinding bila kita tak biasa melakukannya.  Belum lagi suara binatang malam yang betseliweran dan ada yang hinggap direrimbunan daun ploso yang bundar.

Apa yang dicari mereka sebetulnya belum banyak yang tahu,  termasuk warga Mejono dan Tenggerejo. Benda apa kiranya,  keampuhan dan khasiatnya apa belumlah ada seorangpun yang memperolehnya.

Konon menurut cerita dan legenda yang berhasil dihimpun Posmo,  benda yang diburu ini ada dua.  Benda itu sudah ratusan tahun lalu sebelum kedua desa itu berpenghuni. Tlatah GUBUK DUWUR yang berenergi ini dulu dihuni sepasang suami istri Sujono dan Angger Ayu,  konon dari Kerajaan Pamotan usai Raja Prameswari.

Alas gung lewang liwung tlatah duwur yang dingin,  membuat Ki Sujono selalu menggunakan pipa tulang untuk rokoknya ( kini dikenal dengan nama Once)  untuk mengusir suasana sepi,  dan asapnya mempunyai aroma khas  yang bisa dirasakan orang yang kebetulan mampir di gubuknya.  Dan terasa adem ayem, tiada rasa takut terhadap apapun termasuk lelembut penghuni alas dan waduknya.  Damai sekali tempat ki Sujono ini, ditambah istrinya ni Angger Ayu selalu membuat ramuan ramuan dari daun dan akar disekitar tempat tinggalnya.

Ramuan ramuan Jamu buatan ni angger ayu ini amat ampuh dan berhasiat,  dan menjadi jujugan saat itu untuk minta kesembuhan.  Ternyata ada rahasia saat pembuatan jamunya,  ada rahasia yang tersembunyi dibalik manjurnya jamu ramuannya.   Usai di godok dalam Kendil tembikar dari tabah liat ramuan daun dan akar dengan komposisi dan tajaran khusus,  tak lupa mantranya dan jampi jampi dari ni Angger Ayu lalu kendilnya ditutup dengan kain putih agar semakin berkhasiat jamunya. Menurut pitutur ni Angger Ayu ini puteri dari seorang Resi dari Pamotan saat itu.

Menurut penuturan ki Pulosoro,  mungkin kedua benda itu yang diburu orang orang yang melakukan tirakat dimalam malam dibawah pohon ploso,  dua benda itu Pipa tulang untuk merokok dan kacu putih yg digunakan olek kedua suami istri itu.

Ada kejadian menarik beberapa puluh tahun silam,  ada seorang pencari rencek (kayu kayu kecil)  dari desa Melati, desa sebelah selatan waduk. Seharian Sarno mencari dan mengumpulkan ranting ranting kayu dan dirasa cukup untuk dipikulnya,  dia merapikan ranting ranting kayu itu,  tak sengaja tangan kirinya kena bendo/pisau pemotong kayu yang amat tajam,  darah nengucur tanpa hentinya tak bisa bethenti,  sampai kaosnya dipakai untuk membalut tangannya,  darahnya tetap tak tak mau berhenti. Dan ada temannya sesama pencari rencek, membuatkan ramuan dari daun daun disekitarnya,  tetap tak ada hasil.

Tubuh sarno hampir lemes dan mata berkunang alkibat darah yang keluar amat banyak. Disaat galau dan putus asa,  tiba tiba pandangannya tertuju kain putih lusuh,  teronggok di geladak kayu tepi waduk. Tanpa pikir panjang,  dengan mengumpulkan tenaga tersisa dia raih kain putih lusuh itu,  dan segera membebalnya/nembalutkan kelukanya.  Pelan pelan darahnya berhenti dan berangsur rasa jaremnya betangsur pulih.

Setelah sehat sarno segera pulang kedesa Melati dengan memikulnya,  dimana anak isterinya denfan cemas menunggunya.  Setelah masuk rumah dan dirasa istirahatnya cukup, dan dah berrganti pakaian, dia segera menemui anak istrinya.  Dia agak marah ke ustrinya lantaran dia sakit berdarah,  tapi isteri dan anaknya membiarkan katanya di tak melihat dan tak tahu kalo suaminya sudah pulang,  walau melangkah didepannya saat masuk rumah.

Sarno lebih terkejut   tangannya yang kena pisau tajam itu tak ada bekas kalo habis kebacok,  lebih tetkejut lagi dia mencari kain lusuh yang ditemukan digeladak kayu waduk dan bergasil berhentikan darahnya yang keluar,  padahal kaosnya yang berlumuran darah beraroma amis masih teronggok diatas dampar kayu.
Seisi rumah diam,  tertegun dan bersyukur keluarganya bisa kumpul kembali,  dan mensyukuri kejadian yang menimpanya.

Dalam bathin berpikir kemana kain putih itu raib,  apakah kain itu yang diburu orang orang yang malam malam tertentu berkholwat, bertasbih,  bercengkeramama dengan alam??
WaAllahu aklam bissawab.