Makam Syekh Maulana Ishaq

Luar biasa desa Kemantren Paciran Lamongan ini , seiring menggeliatnya perkembangan wilayah Pantura. Kini mempunyai destinasi wilayah yang patut dibanggakan, sebuah tempat rekreatif social, budaya maupun spiritual keagamaan yang mumpuni , luas dan menyenangkan. Makam Syekh Maulana ISHAQ, diyakini sebagai ayahanda Kanjeng Sunan Giri salah satu pilar Wali Songo  patut  dikunjungi untuk menambah wawasan dalam pengembangan berdakwah dan Olah rasa.

Nama Syekh Maulana Ishaq tidak bisa dilepaskan dari sejarah penyebaran Islam Di tanah Jawa,  bersama sama Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ahmad jumadil Kubro, Maulana M Maghribi, Maulana Malik Israeli, Maulana Aliyudin Dan Syekh Subakir. Para penyebar Islam ini selain menguasai ilmu agama, juga memiliki Keahlian dibidang yang berbeda. Salah satu keahlian yang dikuasai yaitu bidang pengobatan, sehingga julukan untuk beliau banyak sekali. Dalam buku Babat tanah Jawa versi Gresikan dikenal dengan nama Resi Maulana Ishaq, Prabu Anom, Raja Pandito atau Syekh Awalul Islam. Juga Di naskah lain disebut sebagai Wali Lanang atau Molana Usalam.
Kedatangan  Syekh Maulana Ishaq dkk ke Nusantara skitar 1433 = 1443 M seperti dalam buku  Sejarah dan perjuangan Syekh Maulana Ishaq yang menetap Di Banyuwangi tempatnya skitar Muncar sekarang dan bersyiar mengembangkan  Islam Di daerah Gunung Selangu, saat kerajaan Blambangan dipimpin  Prabu Menak Sembayu yang memeluk agama Hindu dan Budha. Saat itu di Kerajaan Blambangan terserang Pagebluk atau wabah penyakit, hampir setiap hari ada korban meninggal.
Salah satu yang menderita penyakit itu puteri Raja sendiri Ni Ratna Sekardadu, sehingga membuat Raja Menak ketakutan Dan membuat sayembara karena tabib istana tak mampu mengatasinya. Melalui patih Baju Sengara, Raja mengumumkan sebuah sayembara ke penjuru negeri, ” Lan pada saksinana sami, iya sayembara ningsun. Sopo kang biso marasno maring putri ningsun pan puniko dadi ngarep lan jatikromo. sun palih negara Blambangan, ngadek Prabu Anom”.
Yang berarti ” Saksikanlah oleh kalian semua, barang siapa dapat menyembuhkan putriku maka ia akan mernjadi suaminya dan akan kubagi Kerajaan Blambangan menjadi dua, Dan kuangkat dia menjadi Prabu Anom”.
Akhirnya Syekh Maulana Ishaq ikut sayembara setelah syaratnya di janjikan sang Raja dan bisa menyembuhkan sang Puteri, dan Raja memenuhi janjinya untuk masuk Islam beserta keluarganya dan menikahkan dengan puterinya dan mengembangkan Islam dengan leluasanya. Keberhasilan syech Maulana Ishaq ini membuat cemburu Patih Bajul Sengara dan segera merancang siasat buruk dengan menghasut sang Raja. Bahkan tega sekali menyiksa warganya agar kembali ke kepercayan lamanya. Karena itulah Syekh Maulana Ishaq meninggalkan Blambangan menuju utara melalui pantai, serta meninggalkan isterinya yang lagi hamil setelah terlebih dulu pamitan secara sembunyi tak lupa memberi sinyal atau petunjuk bila suatu saat menyusulnya.
DAKWAH SYEKH MAULANA  ISHAQ DI KEMANTREN.
Dirasa dakwahnya Di Blambangan terganggu Dan dihambat, maka beliau memutuskan kembali kesamudra Pasai, namun mampir dulu ke Ampel bermaksud menemui sang kakak Ibrahim asmaraqondi D Palang Tuban dan memlih menetap di Kemantren Paciran, dan mengembangkan syiar Islam. Dalam berdakwah Syekh Maulana Ishaq melakukan pendekatan budaya dengan cara membuat kegiatan yang disukai oleh masyarakat pada masa itu. Dengan Batu bayang Gambang , Maulana Ishaq mengumpulkan masyarakat untuk mengajarkan islam melalui media music yang diiringi alunan gambang. Juga berdakwah melalui jalur pengobatan, kearifan dan kesantunan dalam berdakwah membuat disukai masyarakat Yang masih penganut kuat ajaran Hindu Budha yang berpusat Di gunung Petunon barat Kemantren.
Seperti tersirat dalam manuskrip Kemantren ” Eng ponco mantren kulon pinggir banyu laut ono tongkat lan watu bathok kangggo pasujudan sholat. Sing sopo wong duweni karep bakal bejo kemayangan uripe lan bakal unggul derajade…..”  Ini menunjukkan letak Kemantren, sehingga dalam pengembaraan  Ni intan Sekardadu mencari suaminya bisa kumpul lagi setelah melalui liku liku perjalanan dari Blambangan menuju Kemantren.
Selain ujaran kabecikan, dakwahnya juga diwujutkan melalui pembangunan Masjid Dan sumur untuk nenyediakan air bagi keperluan sehari hari masyarakat, juga perbaikan lingkungan dengan penanaman pohon waru sehingga suasana pantai menjadi sejuk Dan nyaman.
Pilihan menetap Di Kemantren tanpa alasan, wilayah Paciran dalam negara Kertagama merupakan wilayah Mandala yaitu pusat pengembangan Hindu. Dengan berdakwah dekat pusat Pengembangan Hindu Mandala, maka syeh Maulana Ishaq dapat membendung pengembangan pengembaraan agama seksligus memperkenalkan agama Islam.
Saat awal pebruari , wartawan posmo sempat sowan ke makam Maulana Ishaq di Kemantren bersama abah Tikno dan ustad Imam mahfudi, Langsung dipandu H.Mansur sang Juru kunci.
Duh Gusti… SubhanaAllah maha besar engkau ya Robb, tertegun sekali saat masuk desa Kemantren tepi pantai ini. Tolah toleh mencari makam lama yang sederhana dan sumur tepi laut yang teduh dengan pohon waru raksasa melambai daun daun nya oleh angin dari utara.
Makam syeh Maulana Ishaq dipugar diberi bangunan indah berukir jati pilihan, masjid jati tiban dulu sekarang masih utuh bersemayam di puncak masjid baru nan megah. Sumur yang dulu ditepi bibir laut Persis airnya jernih lan towo, walaupun disebelahnya air Laut yang asin banget tenyata masih utuh dibelakang masjid baru dan jauh dari bibirrr laut, itulah karomah yang dikiriku saat warga skitar kesulitan air tawar beliau mampu mewujudkan dalam waktu sekejab.
” Injih Pak, ini karomah dari mbah Ishaq walau panjenenganipun sampun sedho namun masih bisa membahagiakan masyarakat sini, setelah berdirinya LIS Lamongan Integrate Sorbase sebelah timur desa”, kata  H. Mansur dengan bangganya
Walaupun Syekh Maulana Ishaq sudah meninggalkan kita 7abad lampau, tapi keberadaan beliau masih bisa mensejahterakan masyarakat Kemantren, sehingga bisa dipakai rekreatif religious Dan spiritual yang gratis, serta ada edukasi untuk anak semakin mencintai laut dan lingkungan.