Andai kepingin berwisata budaya ke situs megalitikum gunung padang dapat ditempuh melalui 2 jalur, dari arah barat dan timur. Dari barat start cianjur-sukaraja-tegalsereh-gunung padang. Dari arah timur start cianjur-warungkondang-cikancana lempengan-pal dua gunung padang. Kedua jalur sudah beraspal hanya beberapa titik perlu pengerasan dan perbaikan sehingga melancarkan arus lalulintas menuju gunung padang.

Ribuan balok  yang berserakan ini tidak mungkin akan terwujud tanpa satu sistim sosial yang mapan tabg dipimpin oleh pemimpin yang kharismatik yang erat kaitannya dengan aspek gotongroyong dimasyarakat demi mewujudkan punden berundak tersebut disamping itu gunung padang dipandang sebagai hasil proses adaptasi manusia lingkungan dan penerapan teknologi yang dimiliki saat itu. Atau ada yang berpandangan adalah balok tersebut dibawah dari daerah sekitar dan kemudian disusun dipuncak gunung padang.

Menurut kang ade ahmad dari sukaraja, batuan ini membuktikan kesaktian sang Prabu Siliwangi saat marah mengibaskan tangannya akibat tiwikramannya terganggu, sehingga menyebabkan berpencarnya berbagai batuan dan muncul dari sekitar gunung padang. Sah sah saja masyarakat ilmiah maupun tinjauan metafisik tentang asal usul batuan, inilah tantangan yang lebih berat kedepannya.

KESAKTIAN SANG MAUNG IRENG
Tantangan kebenaran tentang struktur dan susunan batuan membuat Posmo seijin penjaga situs gunung padang melakukan penelusuran secara metafisik ditempat singgahsana Sang Prabu. Setelah mencoba meletakkan kedua tangan di batu telapak Maung, dengan konsentrasi penuh untuk menyamakan frekuensi energi, posmo mendapat bocoran aura dan warna energi yang muncul, menghasilkan warna biru benhur berkristal seperti indahnya warna prusi sebelum air kristalnya menguap. Sesaat kemudian Kang Asep petugas situs mengangguk, tanda setuju dan Kang Asep pernah mendapatkannya tahun lalu. Perbincangan gayeng berempat sempat mengagetkan kedua petugas yang mendampingi posmo, atas pertanyaan nakal dan menggelitik sang dokter, pun atas gurauan Yai Saipul yang aneh dan nyleneh, duduk dibawah pohon besar pohon kemenyan bergetah warna kemerahan dan harum amat, mengingatkan saat berada dibawah pohon trunyan Bali.

Hening siang ditemani angin sumilir tak terasa mengagetkan untuk memulihkan energi, ternyata energi yang diterima posmo amat lembut dan kebiruan mengarah putih kristal. Juga saat suasana hening ada sekelebatan tiga binatang maung yang menunggu lembah padang ini, yang berwarna kuning keemasan, warna putih dan maung hitam yang bertaji tajam.

Kekagetan luar biasa dua penjaga situs tersebut saat ada bocoran energi dan aura yang diterima. Menurut posmo batu batuan itu panjang bersegilima dan segienam karena  saat semedinya Sang Prabu Siliwangi terganggu oleh auman Maung hitam sehingga Sang Prabu mengangkat tanganya disertai teriakan hebat sehingga tertariklah batu batuan dari dalam bumi bermunculan ke udara dan menyatu membentuk trap gunung padang. Sang Prabu menghadap ke barat kearah gunung tingggi Gedhe Pangrango di temani ketiga Maung saktinya.

Akhirnya bertiga turun melalui tangga dari beton yang dibuat oleh pemda Cianjur. Pulang membawa kesan dan kenangan indah akan kemolekan, keeksotikan dan kemisteriusan situs megalitikum gunung padang.