Gambar dari http://denanda87.blogspot.com/

Dalam penyusuran  gedung tua peninggalan Belanda di Ngimbang selain Omah Duwur kini amatlah susah. Di edisi kedua ini yang namanya gedung Opas, gedung Lawang Ireng, Stasiun maupun  gedung pompa air semuanya sirna sudah berganti gedung baru begitupun fungsinya, gedung Bui jadi tegalan jagung. Bidikan mengarah ke sekolahan yang memang arsitektur Belanda dan sang Arsitek juga warga Belanda Yan Coolen, namun bangunan ini dibuat tahun 1967, akhirnya kali ini pada Omah kayu bercat biru , omah Wedono yang dulunya merupajan markas tentara Belanda di ngimbang.

Kedatangan Posmo yang ditemani pelukis muda potensial Ivan Blawi disambut penjaga gedung ini mbah Sugiatmo. Lelaki tua berusia 67 tapi terlihat lebih tua dari usia sebenarnya, meminta tamunya DuduK di amben galar sambil menikmati rokok kreteknya, sesekali mendehem mengeluarkan riaknya. Mengko disik mas, nanti saya antar kegedung itu, katanya sambil menunjuk gedung biru itu dusebelah utara warung kecilnya sekaligus tempat tinggalnya. Bertiga berjalan menuju gedung itu dan memceritakan dan berkeliling belakang.
Serr serr.. saat memasuki halaman belakang, pemandangan berubah drastis, bagaikan siang dan malam, bagaikan taman firdaus dan tanah penyekapan. Aura mistis, aura angker menakutkan, aura wingit, sintrung dan energi negatif dengan angin aroma amus amis. Mbah Sugiatmo menunjukkan dua sumur tua yang susah dikenali lagi lantaran ditumbuhi tanaman dab ilalang sqmpai setinggi manusia, betul betul suasana horor disiang bolong. Mbah Sugiatmo menunjukkan disumur itu ditemukan arca Nandi yang terbuat dari logam, kini dikoleksi orang Tuban. Asal muasal arca itu, saat dia tidur dibangunkan oleh kakek tua berbaju putih dan berkuncir mirip pendekar cina Lo Fue Chiang, agar mengambil benda bersinar putih di mulut sumur, kenang mbah giat panggilan kesehariannya.
Kekagaten demi kekagetan muncul, rasa miris Ivan Blawi terasakan mimiknya, apalagi saat di gedung belakang bangunnn yang tiada gentengnya ini dikejutkan dengan melompatnya garangan dari dalam, membuat nyali smakin kecil. Diceritakan lagi oleh mbah Giat, gedung terlantar sejak kedudukan Kawedanan dihapus, hanya gedung utama didepan yang dipakai kantor dikbudcam, dulu suami istri penjaga gedung ini, mengambili kayu kayu gedung ini, dia sering diberi mimpi agar kayu yang diambil segera dikembalikan lagi dasar dablek Akhirnya keduanya meninggal karena kecelakaan tragis. Tiba tiba terendus aroma amus amis luar biasa, anehnya si mbah tak merasakan apa apa. Saat posmo menoleh ke bangunan bekas toilet, ada bayangan putih sekelebat secepat kilat menuju arah barat, melintas lapangan tennis anyar namun tak jarang untuk digunakan.
ULAR BERMAHKOTA PENUNGGU DANDANG TEMBAGA
Bangunan omah wedono yang terbuat dari kayu jati pilihan terlihat amat kokoh, elegan seperti gaya rumah kini modern tur minimalis. Tiada ornamen yang menonjol, tapi lis lis kayu tertata dengan rapinya, teliti pengerjaannya terlihat dinding pelapis yang taj ada kesan kunonya.
Saat kutanyakan misteri apa dan pengalaman apa selama mbah giatmo bekerja disini, juga saat menjawab kesan ada sinar putih dan bau amis tadi. Mbah giat diam sebentar dan mengajak duduk lagi diamben galarnya,  ” iya mas penunggu ghaib disini selain kakek gagah baju putih berkuncir, juga dijaga oleh Ular putih bermahkota mutiara selalu diam dengan setianya di Dandang besar dari tembaga dan mengitari tlatah ini, dan buntutnya diarah barat dengan  menjaga seperangkat Gong yang kemilau”.
Posmo penasaran, apa ya yang ditunggu ular putih ini, ada kaitan apa Dandang, Gong dan bau amis? Apakah dulu tempat ini yang merupakan markas tentara Belanda, memasaj makanan didandang itu, ataukah ini merupakan Jamu atau ramuan herbal yang terbuat daru aneka sari daging, buah buahan dan kulit tanaman yang  berfasa Asam? Dan Gong itu sebagai sarana seperti sinyal atau tanda dimulainya jamuan makanan yang kokinya pendekar berkuncir? Ataukah ini tempat dusiksanya para tahanan dari gedung lawang ireng yang tak jauh dari markas tentara ini. Teka teki ini akan terbawa sampai kapan, hanya waktu dan kemauan kita untuk maju.
Minimnya informasi, minimnya data data peninggalan gedung dan tempat bersejarah, serta kepedulian orang, sekelompok orang, atau lembaga bahkan perhatian pemerintah yang mempunyai lembaga terkait amat lemahnya, hampir tak peduli. Negara akan besar jika mengetahui , menghargai dan merawat Pahlawan dan hasil olah Pahlawan dan para pendahulunya, termasuk gedung gedung sebagai sejarah berdirinya republik ini. Termasuk aset di desa Ngimbang ini,.juga tempat tempat lain di negeri ini yang punya kesejarahannya.