Foto dari travel.kompas.com

Kawah Ijen banyak tersimpan misteri, eksotisme blue fire, penambang , terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso Jawa Timur memiliki ketinggian 2.443 mdpl. Kawah Ijen ini merupakan sebuah danau bersifat asam, terbesar atau terluas di dunia mencapai 5.566 hektar. Kawah Ijen ini masuk dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen kabupaten Banyuwangi dan kabupaten Bondowoso, kini sementara tertutup untuk masyarakat umum lantaran 21 Maret 2018 mengeluarkan gas belerang, sehingga menyebabkan beberapa warga di desa Kali Pait terkena akibatnya  juga tanaman Pinus dan perkebunan kubis dan kentangnya.

Hasil evaluasi terhadap kondisi konsentrasi gas Sabtu pagi 31 Maret  terhadap kondisi konsentrasi gas berbahaya di Kawah Ijen masih dikaji Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Kementerian Lingkungan Hidup melalui kepala pos Pengamatan Gunung berapi B. Heru Purwanto pihaknya masih menanti hasil kajian sebelum menentukan status Kawah Ijen.
Sehingga dibutuhkan pengertian dari beberapa puluhan pengunjung untuk bisa  mengalihkan ke obyek wisata yang lain disekitar kawasan sekitar sini, bisa menuju Kawah Wurung, pulau merah, Stone Hange Solor maupun ke kawasan Taman Nasional Baluran.
Dampak dari penutupan pendakian ke kawah Ijen ini bisa dirasakan oleh penyedia jasa tour wisata dan guide yang biasa menanganinya , jasa penyewaan transportasi serta menurunnya penghasilan beberapa warung didepan sebelah selatan termasuk penyewaan perlengkapan pendakian.
Beberapa wajah penyesalan, kekecewaan dan kekesalan para pengunjung yang datang dari Jakarta, Bali, Bandung, malang, Lamongan dan turis mancanegara. Tetapi rata-rata mereka memaklumi dan salut pada penjaga yang konsisten  tiada seorangpun atau kelompok pengunjung yang boleh masuk, termasuk rombongan wartawan Posmo ini.
” Memang tak bisa menggantikan Ijen, tapi harus tetap kami arahkan agar tak kecewa, dan sebagian besar mengerti dan memahami”, papar Heru Purwanto.
” Wah dak papa pak, saya beserta rombongan pensiunan  jauh jauh dari Bontang Kalimantan Timur , kalo dipaksa nanti malah membuat masalah. Bisa foto – foto disini ada tulisan besar itu dan suasana kabut yang tebal sudah terobati”, kata Imelda Saraswati yang baru saja pensiun dari pabrik pupuk disana.
BLUE FIRE DAN PENAMBANG
Keeksotikan sinar biru dan kuatnya para penambang belerang  di kawah Ijen ini ini menjadi daya tariknya. Wartawan Posmo bersama mas Ari Rames dari Bandung dan Abah Tholib dari  Lamongan sudah lama dan menjadwalkan untuk turun gunung lagi dari aktivitas sehari-hari, rindu Gunung , rindu aroma debu atas dan berdialog langsung dengan alam yang bersahabat, alam yang bersahaja. Rindu dengan dialog burung burung yang berseliweran sekaligus rindu lari lari sa’i di Savana yang luas dengan tarian rumput eloknya,  belum lagi jauh disana menemui jernihnya air di suatu Ranu yang luar biasa .
Tiada kekecewaan dari wajah bertiga, termasuk rombongan umum, mahasiswa bersama kekasihnya yang berboncengan, semua memaklumi  dengan sapaan gas  Sulfur , dalam bentuk gas sulfat maupun sulfit yang bercampur air  mengalir kebawah melalui kawasan Kalipait dan sekitarnya. Kalau dipaksakan akan berbahaya pada diri pengunjung, juga nantinya memusingkan penjaga kawasan ijen ini. Kekecewaan  pada eksotisme cincin biru , fenomena Blue fire yang setiap hari dapat dijumpai sekitar pukul 02.00-04.00 yang merupakan keunikan tempat ini, karena pemandangan seperti ini hanya ada 2 di dunia yaitu kawasan kawah Ijen dan negeri Islandia.
Dari kawah Ijen ini  kita dapat melihat pemandangan gunung Merapi, gunung disebelahnya dengan Kilauan api malam, di sebelah timur bisa terlihat keperkasaan gunung Raung, gunung  Rante dan gunung Silet dengan sinar kemerahan  Sun Rise dari ufuk timur, terlihat gagah burung burung bermanuver menyemput pagi.
Yang lebih mempesona saat naik ke kawah Ijen mengikuti para penambang belerang yang luar biasa perjuangannya menaklukkan ganasnya alam ini, kita bisa belajar banyak dari mereka guna menatap ramainya kehidupan  dibawah.
RUMAH BUNDAR RUMAH BELANDA
Dari penelusuran Posmo yang terahir ke kawah Ijen tahun 1997, yang aura tlatah ini luar biasa, aura tlatah etan yang sangat , sehingga menyebar beberapa misteri yang masing – masing tidak sama, selalu berkaitan dengan ular, besar, kuda terbang dan nenek maupun kakek tua. Hal itu sah sah saja karena setiap pengunjung mempunyai dan menyandang faktor psikologis tertentu. Biasanya neraka yang mengalami itu menyimpan rasa penasaran , rasa takut sekaligus rasa sombong menyepelekan kekuatan yang terkandung dalam tlatah ini.
Menurut pengamatan dan yang bisa dirasakan wartawan ini jika pendakian atau menuju sesuatu ke tempat yang berenergi, selalu tiada match-nya antara dirinya dengan energi alam.  Di tlatah ini salah satunya faktor alam yang mengandung bau belerang, jika suasana lembab malam hari belerang berubah menjadi gas SO3 yang menyengat, ditambah dengan kondisi kelelahan   dan lemahnya kondisi badan sang pengunjung, menjadi suasana halusinasi dan disertai mengigau akan kelembutan penghuni alam disini.
Saat jelang pagi sekitar pukul 01.35 yang dinginnya luar bisa rombongan Posmo, bercengkerama dengan kang Eryanto dan mas Fajar sang Guide pemandu handal di kawasan Kawah Ijen ini menuturkan sebagai berikut.
” Selama saya disini pak dari penambang sampai kini menjadi guide, belum kami alami pengunjung yang meninggal. Tetapi kalau tersesat dan tidak ditemukan beberapa hari wajar pak, baru beberapa saat selalu ditemukan”, katanya  sambil ngajak  keluar untuk menghangatkan diri depan pembakaran kayu yang disediakan pemilik warung mbak Elis yang berkulit putih.
Tiba-tiba mas Fajar nyahut sebelum kang Eryanto melanjutkan. ” Itu pak … Orang tersesat itu selalu ditemukan disekitar kadang didalam rumah bundar, rumah peninggalan Belanda “, sambil menunjukkan arah Utara sekitar 900meter dari pintu masuk.
Sayang karena masih tertutupnya kawasan ini, sehingga Posmo tidak bisa mendeteksi langsung aura dan energi yang ada dalam bunder, serta foto bentuk rumah bunder aselinya.
Guna menuju kawasan kawah Ijen disarankan pengunjung berombongan dan membawa kendaraan sendiri atau menyewa, bisa dilalui via Bondowoso dengan jalan beraspal mulus dicapai sekitar 2 jam menuju kecamatan Sempol dikanan Ki tumbuh kopi Arabica yang bagus banget. Atau bisa dicapai dari stasiun karang asem dekat  Genteng Banyuwangi menuju kawah Ijen dengan jalan yang berliku dan licin lebih menguras adrenalin.
Sungguh elok dan tak rugi bila ada kesempatan pengunjung mendatang kawah Ijen ini, dilakukan dengan penuh kecermatan terutama kondisi fisik dan ubah rampenya.
Selanjutnya rombongan Posmo , diantar dengan land Rover menuju kawah Wurung yang tak jauh  dari kawah Ijen. Namun  jika driver dan kendaraan kurang mumpuni jangan ngeyel lantaran jalannya lebih menantang, sehingga perlu perhatian dari pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk membenahinya.